Konten “receh” sebenarnya tidak otomatis menghancurkan otak. Masalahnya muncul ketika seseorang mengonsumsi konten pendek, dangkal, dan sangat menghibur secara berlebihan, sampai otak terbiasa mendapatkan stimulasi tanpa perlu usaha berpikir yang panjang.
Yang bisa terjadi antara lain:
-
Rentang perhatian menjadi lebih pendek
Terbiasa dengan video 10–30 detik yang terus berganti dapat membuat aktivitas yang membutuhkan konsentrasi—membaca buku, belajar, atau mengerjakan pekerjaan—terasa membosankan. -
Terbiasa dengan kepuasan instan
Scroll → menemukan sesuatu yang lucu → mendapat hiburan → scroll lagi. Pola seperti ini membuat seseorang terus mencari stimulus baru daripada bertahan pada aktivitas yang hasilnya baru terasa setelah berjam-jam atau berbulan-bulan. -
Kemampuan berpikir mendalam bisa tergerus oleh kebiasaan
Bukan karena satu video receh merusak otak, tetapi karena sebagian besar waktu luang dihabiskan untuk konsumsi pasif. Akibatnya, waktu untuk membaca, berdiskusi, menulis, belajar, dan memecahkan masalah menjadi lebih sedikit. -
Algoritma cenderung memberi apa yang membuat kita terus menonton
Konten yang kontroversial, lucu, mengejutkan, atau membuat marah sering mendapatkan perhatian tinggi. Akibatnya, seseorang bisa terjebak dalam pola konsumsi yang semakin ekstrem. -
Informasi dan hiburan bercampur
Kalau semua informasi dikonsumsi dalam format pendek, seseorang bisa terbiasa mengetahui “sedikit tentang banyak hal” tanpa benar-benar memahami suatu persoalan. -
Produktivitas bisa terdampak
Misalnya seseorang berniat membuka HP selama 5 menit, kemudian satu jam berlalu. Yang hilang bukan hanya satu jam tersebut, tetapi juga momentum untuk belajar atau mengerjakan sesuatu.
Jangan sampai kita menyimpulkan:
“Anak muda sekarang bodoh karena TikTok/Reels/YouTube Shorts.”
Itu terlalu sederhana.
Konten pendek juga bisa digunakan untuk belajar, mendapatkan informasi, menemukan peluang bisnis, mempromosikan karya, bahkan belajar keterampilan baru. Persoalannya lebih kepada pola konsumsi dan proporsinya.
Menurut saya, masalah yang lebih serius adalah ketika seseorang hanya menjadi konsumen.
Contohnya:
Scroll → tertawa → scroll → marah → scroll → tertawa → tidur.
Berbeda dengan:
Menonton → mendapatkan ide → membaca lebih dalam → mencoba → membuat sesuatu → mendapatkan pengalaman.
Yang kedua menjadikan internet sebagai alat untuk berkembang.
Jadi bukan “konten receh menghancurkan generasi muda”, melainkan budaya konsumsi tanpa batas dapat membuat generasi muda kehilangan waktu, perhatian, dan kebiasaan berpikir mendalam.
Dan ini menarik kalau dikaitkan dengan pertanyaanmu sebelumnya tentang “kenapa generasi Indonesia seperti tidak punya harapan.” Salah satu pertanyaan yang lebih penting justru:
Apakah generasi muda Indonesia sedang kekurangan kesempatan, atau mereka juga sedang kehilangan kemampuan untuk memanfaatkan kesempatan karena perhatian mereka terus-menerus direbut oleh konten?
